Hari masih gelap. Azan subuh baru setengah jam lalu berkumandang. Namun kesibukan sudah tampak di rumah Supriyanto, buruh tani berusia 45 tahun itu. Usai salat subuh bersama istrinya, Sugiyanti, dia sudah berpakaian rapi. Tentu bukan hendak pergi ke sawah.
Ini hari istimewa, bagi keluarga yang tinggal di Desa Cibuk Lor 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Puteri bungsu mereka, Angga Dwi Tuti Lestari, 22 tahun, hari itu akan diwisuda menjadi sarjana di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Satu-satunya sarjana di keluarga sederhana itu.
Seorang tetangga, bermurah hati mengantar keluarga itu. Dia pinjamkan mobil sekaligus mengemudikannya. Nenek Angga yang berusia 60 tahun ikut dalam rombongan kecil itu. Jelang terbit matahari, rombongan berangkat ke Solo.
Mereka sampai di Aula Gedung B Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (MIPA) UNS sejam kemudian. Penanggalan di telepon seluler Angga menunjuk hari Senin, 16 Juni 2014. Setiba di kampus, Angga bergabung bersama rombongan mahasiswa lainnya.
Sementara orang tuanya masuk lewat pintu undangan. Supriyanto minder melihat penampilan orang tua mahasiswa lainnya yang rapi. Ia pun mengajak rombongan kecilnya memilih bangku paling pojok di barisan paling belakang. Nyaris tak terlihat.
Tepat pukul 09.00 WIB prosesi wisuda dimulai. Angga diberi kesempatan memberi sambutan mewakili mahasiwa Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, yang diwisuda. Mendengar nama anaknya disebut, wajah Supriyanto dan istri tampak bangga.
Saat itu Angga mengucapkan terimakasih pada pihak Dekanat yang banyak membantu dalam studi hingga biaya kuliah. Maklum, Angga adalah mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, sebuah bantuan biaya pendidikan yang hanya ditujukan untuk calon mahasiswa miskin sejak tahun pertama kuliah, 2010 lalu.
Tibalah saat sambutan Dekan Fakultas MIPA UNS, Prof. Ir. Ari Handono Ramelan, MSc (Hons), PhD. Sang dekan sempat mengulas sambutan Angga. Dan yang lebih mengejutkan, Dekan mengumumkan wisudawan terbaik UNS 2014. “Dia adalah Angga Dwi Tuti Lestari, mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas MIPA dengan perolehan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3.98.”
Suara tepuk tangan memenuhi Aula, siang itu. Supriyanto dan istri pun langsung mengucapkan syukur. Di tengah gemuruhnya tepuk tangan, Dekan meminta orang tua Angga berdiri.
Tubuh Supriyanto dan Sugiyanti gemetar. Susah payah mereka berusaha berdiri ketika sekitar seribuan pasang mata memandang ke arah mereka. Saat melihat sosok pasangan itu, tepuk tangan makin bergema dan berlangsung panjang.
Kedua orang tua Angga sungguh terkejut. Karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan dari universitas bahwa anak mereka menjadi wisudawan terbaik. Mereka tak mampu menahan haru. Di tengah tepuk tangan yang membahana, keduanya menangis tersedu. Melihat orang tuanya menangis bahagia, di atas panggung, Angga juga ikut menangis terharu.
Usai acara, Supriyanto mendatangi Angga. Ia berkata pada anaknya: “Kalau bapak tahu kamu jadi lulusan terbaik, bapak akan pakai baju yang lebih baik,” ujarnya
Ini hari istimewa, bagi keluarga yang tinggal di Desa Cibuk Lor 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Puteri bungsu mereka, Angga Dwi Tuti Lestari, 22 tahun, hari itu akan diwisuda menjadi sarjana di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Satu-satunya sarjana di keluarga sederhana itu.
Seorang tetangga, bermurah hati mengantar keluarga itu. Dia pinjamkan mobil sekaligus mengemudikannya. Nenek Angga yang berusia 60 tahun ikut dalam rombongan kecil itu. Jelang terbit matahari, rombongan berangkat ke Solo.
Mereka sampai di Aula Gedung B Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (MIPA) UNS sejam kemudian. Penanggalan di telepon seluler Angga menunjuk hari Senin, 16 Juni 2014. Setiba di kampus, Angga bergabung bersama rombongan mahasiswa lainnya.
Sementara orang tuanya masuk lewat pintu undangan. Supriyanto minder melihat penampilan orang tua mahasiswa lainnya yang rapi. Ia pun mengajak rombongan kecilnya memilih bangku paling pojok di barisan paling belakang. Nyaris tak terlihat.
Tepat pukul 09.00 WIB prosesi wisuda dimulai. Angga diberi kesempatan memberi sambutan mewakili mahasiwa Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, yang diwisuda. Mendengar nama anaknya disebut, wajah Supriyanto dan istri tampak bangga.
Saat itu Angga mengucapkan terimakasih pada pihak Dekanat yang banyak membantu dalam studi hingga biaya kuliah. Maklum, Angga adalah mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, sebuah bantuan biaya pendidikan yang hanya ditujukan untuk calon mahasiswa miskin sejak tahun pertama kuliah, 2010 lalu.
Tibalah saat sambutan Dekan Fakultas MIPA UNS, Prof. Ir. Ari Handono Ramelan, MSc (Hons), PhD. Sang dekan sempat mengulas sambutan Angga. Dan yang lebih mengejutkan, Dekan mengumumkan wisudawan terbaik UNS 2014. “Dia adalah Angga Dwi Tuti Lestari, mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas MIPA dengan perolehan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3.98.”
Suara tepuk tangan memenuhi Aula, siang itu. Supriyanto dan istri pun langsung mengucapkan syukur. Di tengah gemuruhnya tepuk tangan, Dekan meminta orang tua Angga berdiri.
Tubuh Supriyanto dan Sugiyanti gemetar. Susah payah mereka berusaha berdiri ketika sekitar seribuan pasang mata memandang ke arah mereka. Saat melihat sosok pasangan itu, tepuk tangan makin bergema dan berlangsung panjang.
Kedua orang tua Angga sungguh terkejut. Karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan dari universitas bahwa anak mereka menjadi wisudawan terbaik. Mereka tak mampu menahan haru. Di tengah tepuk tangan yang membahana, keduanya menangis tersedu. Melihat orang tuanya menangis bahagia, di atas panggung, Angga juga ikut menangis terharu.
Usai acara, Supriyanto mendatangi Angga. Ia berkata pada anaknya: “Kalau bapak tahu kamu jadi lulusan terbaik, bapak akan pakai baju yang lebih baik,” ujarnya

0 Response to "Mie Ayam bagi Lulusan Terbaik"
Post a Comment